STT EXCELSIUS

Gloria In Excelsis Deo

 

Excelsius Community & Ministry

Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM): Excelsius Community & Ministry (ECM) mengadakan kajian-kajian teologi, pendidikan, dan musik gereja. Kajian tersebut dipresentasikan dalam seminar yang dilakukan 1,5 bulan sekali. Selain itu, ECM juga mengadakan ibadah raya pada tiap hari Minggu di The Square Apartment & Arcade lt. UG Rinjani Room. Tahun 2019 ini kajian teologi yang dipresentasikan adalah karya-karya dari teolog: Tertulianus, Agustinus, Martin Luther, John Calvin, Ulrich Zwingli, John Knox, dan Robert Charles Sproul.

 

Tertulianus (155 – 230) 

Quintus Septimius Florens Tertullianus, atau Tertulianus, (155-230) adalah seorang pemimpin gereja dan penghasil banyak tulisan selama masa awal Kekristenan. Ia lahir, hidup, dan meninggal di Kartago, sekarang Tunisia. Ia dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir (pagan) serta terlatih dalam kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Pada tahun 196 ketika ia mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusasteraan gereja di wilayah Barat hingga sebagai Bapa Gereja ia digelari “Bapak Teologi Latin” atau “Bapak Gereja Latin”. Ia memperkenalkan istilah “Trinitas” (dari kata yang sama dalam bahasa Latin) dalam perbendaharaan kata Kristen; sekaligus kemungkinan, merumuskan “Satu Allah, Tiga Pribadi”. Di dalam “Apologeticus”-nya, ia adalah penulis Latin pertama yang menyatakan Kekristenan sebagai vera religio (?), dan sekaligus menurunkan derajat agama klasik Kerajaan dan cara penyembahan lainnya sebagai takhyul belaka.

Sebelumnya, para penulis Kristen umumnya menggunakan bahasa Yunani – bahasa yang agak fleksibel dan halus, yang cocok digunakan untuk berfilsafat dan berdebat tentang hal-hal sederhana. Acap kali, orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani menggunakan cara berfilsafat seperti ini terhadap keyakinan mereka. Meskipun Tertulianus, pengacara kelahiran Afrika itu, dapat berbahasa Yunani, ia memilih menulis dalam Bahasa Latin, dan karya-karyanya mencerminkan unsur-unsur moral dan praktis orang Romawi yang berbahasa Latin. Pengacara yang berpengaruh ini telah menarik banyak penulis untuk mengikuti gayanya. Ketika orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keilahian Kristus serta hubungan-Nya dengan Allah Bapa, Tertulianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, ia pun merintis formula yang sampai hari ini masih kita pegang: “Allah adalah satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi”. Ketika dia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas, Tertulianus tidak mengambil terminologinya dari para filsuf, tetapi dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia bukan berarti “bahan” tetapi “hak milik”. Arti kata persona bukanlah “pribadi”, seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan “suatu pihak dalam suatu perkara” (di pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan ilahi). Meskipun Tertulianus mempersoalkan “Apa urusan Athena (filsafat) dengan Yerusalem (gereja)?” namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut mempengaruhinya. Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, kemudian diambil alih Tertulianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. Agaknya ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu adalah sebentuk benda: seperti tubuh dibentuk ketika pembuahan, maka roh pun demikian. “Dosa Adam” diwariskan seperti rangkaian genetik. Gereja-gereja Barat menyimak ide ini, tetapi ide ini tidak dialihkan ke Timur (yang mempunyai pandangan yang lebih optimistik tentang sifat manusia).

Kira-kira pada tahun 206, Tertulianus meninggalkan Gereja untuk bergabung dengan sekte Montanis. Keterlibatannya dengan Montanisme, dan karena sejumlah tulisan menjelang akhir hidupnya dianggap bertentangan dengan ajaran Gereja, kemungkinan membuat Tertulianus tidak pernah diakui sebagai seorang santo oleh Gereja, tidak seperti para Bapa gereja lainnya.

 


Agustinus (13 November 354 – 28 Agustus 430)

Agustinus dari Hippo (dalam bahasa Latin: Aurelius Augustinus Hipponensis, lahir 13 November 354 – meninggal 28 Agustus 430 pada umur 75 tahun), juga dikenal sebagai Santo Agustinus, atau Saint Augustine dan Saint Austin dalam bahasa Inggris, Beato Agustinus, dan Doktor Rahmat (bahasa Latin: Doctor gratiae), adalah seorang filsuf dan teolog Kristen awal yang tulisannya mempengaruhi perkembangan Kekristenan Barat dan filsafat Barat. Ia adalah uskup Hippo Regius (sekarang Annaba, Aljazair), yang terletak di Numidia (provinsi Romawi di Afrika). Ia dipandang sebagai salah seorang Baa Gereja terpenting dalam Kekristenan Barat karena tulisan-tulisannya pada Era Patristik. Di antara karya-karyanya yang terpenting misalnya “Kota Allah” dan “Pengakuan-pengakuan”.

Menurut rekan sezamannya, Hieronimus, Agustinus telah memperbaharui “Iman kuno”. Pada awal hidupnya, ia banyak dipengaruhi oleh Manikeisme dan sesudahnya oleh Neoplatonisme dari Plotinus. Setelah dibaptis dan memeluk Kekristenan pada tahun 386, Agustinus mengembangkan pendekatannya sendiri dalam filsafat dan teologi dengan mengakomodir berbagai metode dan sudut pandang. Dengan keyakinan bahwa kasih karunia atau rahmat Kristus mutlak dibutuhkan bagi kebebasan manusia, ia membantu merumuskan doktrin dosa asal dan memberikan kontribusi penting pada pengembangan teori perang yang dapat dibenarkan.

Ketika Kekaisaran Romawi Barat mulai pecah, Agustinus mengembangkan konsep Gereja sebagai suatu “Kota Allah” yang spiritual, berbeda dengan Kota Duniawi yang materiil. Pemikirannya sangat mempengaruhi cara pandang dunia abad pertengahan. Gereja yang berpegang pada konsep Trinitas, sebagaimana didefinisikan dalam Konsili Nicea dan Konsili Konstantinopel, umumnya diidentifikasi sebagai Kota Allah-nya Agustinus.

Dalam Gereja Katolik dan Komuni Anglikan, ia dipandang sebagai seorang santo, seorang Doktor Gereja atau Pujangga Gereja terkemuka, serta pelindung para biarawan dan biarawati Agustinian. Hari peringatannya dirayakan pada tanggal 28 Agustus, hari wafatnya. Ia dipandang sebagai santo pelindung para pembuat bir, penerbit dan percetakan, teolog, pengentasan penyakit mata, serta sejumlah kota dan keuskupan. Banyak kalangan Protestan, terutama Calvinis, menganggapnya sebagai salah seorang bapa teologis Reformasi Protestan karena ajarannya tentang rahmat ilahi dan Keelamatan.

Dalam Kekristen Timur, beberapa ajarannya diperdebatkan dan secara khusus pada abad ke-20 mendapat serangan dari teolog seperti John Romanides. Namun, para tokoh dan teolog lainnya dari Gereja Ortodoks Timur memperlihatkan banyak pemanfaatan dari karya-karya tulisnya, terutama Georges Floronsky. Kontrovesi doktrinal terpenting yang dihubungkan dengan namanya adalah filioque, yang ditolak oleh Gereja Ortodoks. Ajaran-ajaran lain yang diperdebatkan mencakup pandangannya mengenai dosa asal, doktrin mengenai rahmat atau anugerah, dan predestinasi. Bagaimanapun, meski dianggap keliru dalam beberapa hal, ia tetap dipandang sebagai seorang suci (santo), dan bahkan telah memberikan pengaruh pada sejumlah Bapa Gereja Timur, khususnya Gregorius Palamas. Dalam Gereja Ortodoks, pesta peringatannya dirayakan pada tanggal 28 Agustus, dan ia menyandang gelar Beato (“Yang Terberkati”).

 


Martin Luther (10 November 1483 –18 Februari 1546 )

Martin Luther dilahirkan pada 10 November 1483 dalam sebuah keluarga petani di Eisleben, Thuringen, Jerman, Luther beroleh nama Martinus pada 11 November 1483 ketika dibaptiskan. Ayahnya bernama Hans Luther dan ibunya bernama Margaretta. Keluarga Luther adalah keluarga yang saleh seperti biasanya golongan petani di Jerman. Luther mendapatkan pendidikan dasarnya di Mansfeld, sebuah kota di mana ayahnya terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mansfeld, setelah pindah ke sana pada 1484. Pendidikan menengah dikecapnya di Magdeburg di sebuah sekolah yang diasuh oleh “saudara-saudara yang hidup rukun” (Broederschap des gemenen levens).

Pada tahun 1501 Luther memasuki Universitas Erfurt, suatu universitas terbaik di Jerman pada masa itu. Di sini ia belajar filsafat terutama Filsafat Nominalis Occam dan teologia skolastika, serta untuk pertama kalinya Luther membaca Alkitab Perjanjian Lama yang ditemukannya dalam perpustakaan universitas tersebut. Orang tuanya menyekolahkan Luther di sekolah ini untuk persiapan memasuki fakultas hukum. Mereka menginginkan agar anak mereka menjadi seorang ahli hukum.

Pada tahun 1505 Luther menyelesaikan studi persiapannya dan sekarang ia boleh memasuki pendidikan ilmu hukumnya. Namun, pada 2 Juni 1505 terjadi suatu peristiwa yang membelokkkan seluruh kehidupannya. Dalam perjalanan pulang dari Mansfeld ke Erfurt tiba-tiba turun hujan lebat yang disertai dengan guntur dan kilat yang hebat. Luther sangat ketakutan. Ia merebahkan dirinya ke tanah sambil memohon keselamatan dari bahaya kilat. Luther berdoa kepada Santa Anna, yaitu orang kudus yang dipercayai sebagai pelindung dari bahaya kilat sebagai berikut: “Santa Anna yang baik, tolonglah aku! Aku mau menjadi biarawan.”

Pada 16 Juli 1505 ia memasuki biara Serikat Eremit Augustinus di Erfurt dengan diiringi oleh sahabat-sahabatnya. Orang tuanya tidak turut mengantarkannya karena mereka tidak menyetujui keputusan Luther tersebut.

Luther berusaha untuk memenuhi peraturan-peraturan biara melebihi para biarawan lainnya. Ia banyak berpuasa, berdoa, dan menyiksa diri sehingga terlihat paling saleh dan rajin di antara semua para biarawan. Ia mengaku dosanya di hadapan imam setidaknya sekali seminggu. Dalam setiap ibadah doa, Luther mengucapkan 27 kali doa Bapa Kami dan Ave Maria. Luther membaca Alkitab dengan rajin dan teliti. Semua itu diperbuatnya untuk mencapai kepastian tentang keselamatannya. Sebenarnya, Luther mempunyai pergumulan yang berat, yaitu bagaimana memperoleh seorang Allah yang berbelas kasih. Gereja mengajarkan bahwa Allah adalah seorang hakim yang akan menghukum orang yang tidak benar dan melepaskan orang yang benar. Luther merasa ia tidak mungkin menjadi orang yang benar. Ia pasti mendapat hukuman dari Allah yang akan bertindak sebagai hakim itu. Meski telah menjadi biarawan pergumulan rohani itu tidak kunjung selesai. Pergumulannya ini diceritakannya kepada pimpinan biara di Erfurt, yaitu Johann von Staupitz. Johann von Staupitz menasihatkannya agar tidak memikirkan apakah ia diselamatkan atau tidak. Yang penting adalah percaya kepada rahmat Kristus dan memandang pada luka-luka Kristus.

Sementara Luther bergumul mencari Allah yang rahmani itu, Luther ditahbiskan menjadi imam pada 2 Mei 1507. Orang tua serta beberapa sahabatnya hadir pada upacara penahbisan tersebut, serta menerima ekaristi pertama yang dilayani oleh Martin Luther. Kemudian Johann von Staupitz mengirim Luther untuk belajar teologia di Wittenberg sambil mengajar filsafat moral di sana. Itulah sebabnya, Luther dipindahkan ke biara Augustinus di Wittenberg pada tahun 1508. Namun setahun kemudian, ia kembali lagi ke Erfurt untuk mengajar dogmatika.

Di biara Erfurt, Luther mendapat kepercayaan dari pimpinan biara di Jerman untuk membahas peraturan-peraturan serikatnya di Roma pada tahun 1510. Luther sangat gembira karena dengan demikian ia akan berhadapan muka dengan Bapa Suci di Roma, serta berziarah ke tempat-tempat kudus dan berdoa di tangga Pilatus untuk pembebasan jiwa kakeknya dari api penyucian.

Luther ditemani oleh seorang biarawan serta seorang bruder berjalan kaki dari Erfurt ke Roma. Di Roma Luther tinggal selama empat minggu lamanya. Luther mengunjungi tempat-tempat kudus dan dengan lutut yang telanjang merangkak naik Scala Santa sambil mendoakan jiwa kakeknya di api penyucian. Scala Santa ini adalah sebuah tangga naik yang terdiri dari 28 anak tangga yang dipercayai sebagai tangga Pilatus yang dipindahkan dari Yerusalem ke Roma.

Di Roma Luther melihat keburukan-keburukan yang luar biasa. Para klerus hidup seenaknya saja. Nilai-nilai kekristenan sangat merosot di kota suci ini. Dalam kekecewaannya Luther berkata, “Jika seandainya ada neraka, berarti Roma telah dibangun di dalam neraka”. Luther telah mempunyai kesan bahwa dahulu Roma adalah kota yang tersuci di dunia, namun kini menjadi yang terburuk. Roma dibandingkannya dengan Yerusalem pada zaman nabi-nabi. Sekalipun demikian, kepercayaan Luther terhadap Gereja Katolik Roma tidak tergugat.

Setelah kembali dari Roma, Luther pindah ke biara di Wittenberg pada tahun 1511. Ia tinggal di sini sampai ia meninggal. Atas dorongan Johann von Staupitz, Luther belajar lagi sampai memperoleh gelar doktornya pada tahun 1512. Johann von Staupitz melihat bahwa Luther adalah seorang yang sangat pandai sehingga dianggap cocok untuk menjadi mahaguru. Di Wittenberg telah dibuka sebuah universitas baru oleh Frederick III yang Bijaksana pada tahun 1502. Frederick bersimpatik dengan Luther tatkala Frederick mendengar khotbah Luther sehingga ia mengangkat Luther menjadi mahaguru pada universitasnya itu. Selain itu, Luther diangkat menjadi pengawas dan pengurus dari sebelas biara serikatnya di Jerman.

Di Universitas Wittenberg Luther mulai mengajarkan tafsiran kitab Mazmur, kemudian surat Roma, Galatia, dan surat Ibrani. Sementara itu, pergumulan rohaninya mencari Allah yang rahmani terus berjalan. Barangkali pada tahun 1514 Luther menemukan jalan ke luar dari pergumulannya itu. Ia menemukan pengertian yang baru tentang perkataan-perkataan Paulus dalam Roma 1:16-17. Luther mengartikan kebenaran Allah sebagai anugerah Allah yang menerima orang-orang yang berdosa serta berputus asa terhadap dirinya, tetapi yang menolak orang-orang yang menganggap dirinya baik. Kebenaran Allah adalah sikap Allah terhadap orang-orang berdosa yang membenarkan manusia berdosa karena kebenaran-Nya. Tuhan Allah mengenakan kebenaran Kristus kepada manusia berdosa sehingga Tuhan Allah memandang manusia berdosa sebagai orang-orang benar. Tentang penemuannya itu Luther menulis, “Aku mulai sadar bahwa kebenaran Allah tidak lain daripada pemberian yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk memberi hidup kekal kepadanya; dan pemberian kebenaran itu harus disambut dengan iman. Injillah yang menyatakan kebenaran Allah itu, yakni kebenaran yang diterima oleh manusia, bukan kebenaran yang harus dikerjakannya sendiri. Dengan demikian, Tuhan yang penuh belas kasih itu membenarkan kita oleh anugerah dan iman saja. Aku seakan-akan diperanakkan kembali dan pintu firdaus terbuka bagiku. Pandanganku terhadap seluruh Alkitab berubah sama sekali karena mataku sudah celik sekarang.” Luther menyampaikan penemuannya itu di dalam kuliah-kuliahnya.

Penemuan Luther ini tidak menjadi titik meletusnya gerakan reformasi Luther. Titik meletusnya gerakan reformasi Luther adalah masalah penjualan Surat Indulgensia (penghapusan siksa) pada masa pemerintahan Paus Leo X untuk pembangunan gedung Gereja Rasul Petrus di Roma dan pelunasan hutang Uskup Agung Albrecht dari Mainz. Dengan memiliki Surat Indulgensia, dengan cara membelinya, seseorang yang telah mengaku dosanya di hadapan imam tidak dituntut lagi untuk membuktikan penyesalannya dengan sungguh-sungguh. Bahkan para penjual Surat Indulgensia (penghapusan siksa) melampaui batas-batas pemahaman teologis yang benar dengan mengatakan bahwa pada saat mata uang berdering di peti, jiwa akan melompat dari api penyucian ke surga, bahkan dikatakan juga bahwa surat itu dapat menghapuskan dosa.

Luther tidak dapat menerima praktik seperti itu dengan berdiam diri saja. Hatinya memberontak. Itulah sebabnya ia mengundang para intelektual Jerman untuk mengadakan perdebatan teologis mengenai Surat Indulgensia. Untuk maksud itu Luther merumuskan 95 dalil yang ditempelnya di pintu gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober 1517. Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Reformasi.

Dalil-dalil Luther sudah tersebar di seluruh Jerman hanya dalam sebulan. Akibatnya, Surat Indulgensia tidak laku lagi dan Luther dianggap sebagai penyebabnya. Paus Leo X menuntut agar Luther menarik kembali ajarannya yang sesat itu. Luther membalas permintaan Paus dengan memberi menjelaskan maksud setiap dalilnya dengan penuh penghormatan. Namun, Paus memerintahkan kepada Luther untuk menghadap hakim-hakim Paus di Roma dalam waktu enam puluh hari. Ini berarti bahwa Luther akan dibunuh.

Beruntunglah Frederick yang Bijaksana melindungi mahagurunya. Ia meminta kepada Paus agar Luther diperiksa di Jerman dan permintaan ini dikabulkan. Paus mengutus Kardinal Cajetanus untuk memeriksa Luther pada tahun 1518. Cajetanus meminta Luther menarik kembali dalil-dalilnya, namun Luther tidak mau. Cajetanus pun gagal dalam misinya.

Gerakan Reformasi Luther berjalan terus. Banyak kota dan wilayah Jerman memihak kepada Luther dan nama Luther mulai terkenal di luar Jerman. Kaum humanis, para petani Jerman bersimpatik kepadanya. Perdebatan teologis tentang Surat Indulgensia sebagaimana dimaksudkan dengan dalil-dalilnya tidak terjadi. Perdebatan itu baru terjadi pada bulan Juni 1519, di Leipzig. Dalam perdebatan ini Luther berhadapan dengan Johann Eck disertai oleh Carlstadt, rekan mahagurunya di Wittenberg. Dalam perdebatan ini Luther mengatakan bahwa paus-paus tidak bebas dari kesalahan-kesalahan. Konsili pun tidak luput dari kekeliruan-kekeliruan. Luther menunjuk kepada Konsili Constanz yang memutuskan hukuman mati atas Johanes Hus. Johann Eck menuduh Luther sebagai pengikut Johanes Hus. Dalam perdebatan ini pokok perdebatan telah bergeser dari Surat Indulgensia ke kekuasaan Paus. Menurut Luther yang berkuasa di kalangan orang-orang Kristen bukanlah Paus atau konsili, tetapi firman Allah saja. Kini Luther sudah siap untuk menerima kutuk dari Paus.

Sementara menunggu kutuk Paus, Luther menulis banyak karangan yang menjelaskan pandangan-pandangan teologianya. Tiga karangannya yang terpenting adalah “An den christlichen Adel deutscherNation: von des christlichen Standes Bessening” (Kepada kaum Bangsawan Kristen Jennan tentang perbaikan Masyarakat Kristen), 1520; “De Captivitate Babylonica Ecclesiae” (Pembuangan Babel untuk Gereja), Oktober 1520; “Von der Freiheit eines Christenmenschen” (Kebebasan seorang Kristen), 1520.

Tanggal 15 Juni 1520, bulla (surat resmi) ekskomunikasi dari Paus keluar. Bulla itu bernama “Exurge Domine”. Paus menyatakan bahwa dalam pandangan-pandangan Luther terdapat 41 pokok yang sesat. Ia meminta kepada Luther menarik kembali dalam tempo 60 hari dan jika tidak ia akan dijatuhi hukuman gereja. Namun, Luther membalas bulla itu dengan suatu karangan yang berjudul “Widder die Bullen des Endchrists” (Melawan bulla yang terkutuk dari si Anti-Krist). Pada 10 Desember 1520 Luther membakar bulla Paus tersebut bersama-sama dengan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik Roma di depan gerbang kota Wittenberg dengan disaksikan oleh sejumlah besar mahasiswa dan mahaguru Universitas Wittenberg. Tindakan ini merupakan tanda pemutusan hubungannya dengan Gereja Katolik Roma. Kemudian keluarlah bulla kutuk Paus pada tanggal 3 Januari 1521. Luther kini berada di bawah kutuk gereja.

April 1521, Kaisar Karel V mengadakan rapat kekaisaran di Worms. Luther diundang untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya dan karangan-karangannya. Kaisar Karel V menjanjikan perlindungan atas keselamatan jiwa Luther. Pada 18 April 1521, Luther mengadakan pembelaannya. Wakil Paus meminta agar Luther menarik kembali ajaran- ajarannya, namun Luther tidak mau. Kaisar Karel V ingin menepati janjinya kepada Luther sehingga sebelum rapat menjatuhkan keputusan atas dirinya, Luther diperintahkan untuk meninggalkan rapat. Pada 26 Mei 1521, dikeluarkanlah Edik Worms yang berisi antara lain: Luther dan para pengikutnya dikucilkan dari masyarakat; segala karangan Luther harus dibakar; dan Luther dapat ditangkap dan dibunuh oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun juga.

Ketika Luther melintasi hutan, tiba-tiba ia disergap oleh pasukan kuda yang bersenjata. Luther dibawa untuk disembunyikan di istana Wartburg atas perintah Frederick yang Budiman. Di sini Luther tinggal selama sepuluh bulan dengan memakai nama samaran Junker Georg. Di sini pulalah Luther mengerjakan terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani (naskah asli PB) ke dalam bahasa Jerman.

Sementara Luther bersembunyi di Wartburg terjadilah huru-hara di Wittenberg. Carlstadt muncul ke depan. Ia menilai bahwa Luther tidak berusaha untuk menghapus segala sesuatu yang berbau Katolik Roma. Ia menyerang hidup membiara dan menganjurkan agar para biarawan menikah. ia sendiri melayani misa dengan pakaian biasa dan roti serta anggur diberi kepada umat. Perubahan-perutahan ini memang didukung Luther. Tetapi kemudian Carlstadt dipengaruhi oleh nabi-nabi dari Zwickau yang bersifat radikal. Mereka menyerbu gedung-gedung gereja, menghancurkan altar-altar gereja, salib-salib, patung-patung, dan sebagainya. Huru-hara ini tidak dapat dikendalikan oleh Frederick yang Budiman. Luther mendengar huru-hara ini dan segera menuju Wittenberg. Luther berkhotbah selama seminggu di Wittenberg untuk meneduhkan suasana kota. Ia mengecam tindakan kekerasan serta radikal itu. Menurut Luther pembaharuan gereja tidak dapat dilakukan dengan kekerasan atau dengan jalan revolusi. Luther menghardik Carlstadt sehingga ia pergi ke Swiss.

Pada tahun 1525 terjadilah pemberontakan petani di bawah pimpinan Muntzer. Luther mengecam dengan keras pemberontakan ini. Ia mengajak agar para bangsawan memadamkan pemberontakan ini. Dengan demikian Luther memisahkan dirinya dengan golongan-golongan radikal. Setelah pemberontakan itu, Luther menikah dengan Katharina von Bora, seorang bekas biarawati, pada tahun yang sama.

Perkembangan reformasi Luther berkembang dengan pesat. Namanya bukan saja terkenal di Jerman tetapi juga di luar negeri. Pada tahun 1537 Luther menulis suatu karangan yang berjudul “Pasal-Pasal Smalkalden” yang menguraikan pokok-pokok iman gereja reformatoris. Untuk keperluan jemaat dan pemimpin gereja (pendeta), Luther menyusun Katekismus Kecil dan Katekismus Besar. Ia kemudian meninggal pada 18 Februari 1546 dalam usia 62 tahun di Eisleben.

 


John Calvin (10 Juli 1509 –27 Mei 1564)

Siapakah (orang Kristen) yang tidak mengenal nama John Calvin, Sang Reformator dengan bukunya yang sangat terkenal, Institutes of Christian Religion? John Calvin dilukiskan secara stoik sebagai seorang yang berperawakan sedang dengan bahu yang membungkuk, jenggot yang panjang, mata yang tajam, dahi yang besar, serta berambut pirang. Banyak orang menganggap Calvin sebagai pahlawan yang terisolasi atau jenius yang kesepian sebagaimana disebarkan oleh musuh-musuh Calvin. Namun sebaliknya Calvin adalah seseorang yang sangat ramah, penuh afeksi terhadap keluarga dan teman-temannya, suka bergaul baik dengan yang kaya maupun miskin. Karakternya yang paling menonjol adalah kerendahan hatinya.

Calvin dilahirkan dengan nama Jean Cauvin pada tanggal 10 Juli 1509 di Noyon, Perancis. Ketika itu, Martin Luther berusia 25 tahun dan sudah mulai mengajar Alkitab di Wittenberg. Ayahnya, Gerard Cauvin, bekerja sebagai asisten administrasi di kompleks katedral dekat rumah. Ibunya, Jeanne le Franc, melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan, ia meninggal dunia ketika Calvin berusia 5 tahun. Ayahnya sangat dominan dalam pendidikan anak-anaknya. Pada umur 12, ia sudah menunjukkan sifat religiusnya yang sangat mendalam dan mencukur kepalanya sebagai lambang dedikasinya kepada Tuhan. Demikian juga ayahnya menghendaki Calvin menjadi pendeta, karena itu Calvin disekolahkan ke College de Montaigu yang terkenal dengan disiplinnya dan makanannya yang buruk. Di sana ia banyak dipengaruhi oleh tradisi Augustinian. Namun karena perselisihan ayahnya dengan gereja dan anggapan bahwa Calvin akan menghasilkan lebih banyak uang sebagai ahli hukum, ayahnya kemudian menyuruh Calvin studi hukum yang dilakukannya di Orleans dan Bourges. Selama pendidikannya, Calvin belajar dari guru-guru terbaik pada zamannya.

Ayahnya meninggal pada waktu Calvin berusia 21 tahun dan hal ini membuat Calvin merasa terbebas dari studi hukum. Calvin sendiri memiliki rencana atas hidupnya, yaitu terus mengejar karir akademik yang nyaman. Pada tahun 1532, di usianya yang ke-23, dia menerbitkan karyanya yang pertama yaitu Commentary on Seneca, yang mengungkapkan gagasan radikalnya: “Pangeran tidak berada di atas hukum, tetapi hukum berada di atas pangeran”.

Di dalam kehidupan keagamaannya, Calvin adalah seorang yang sangat ketat menjalankan ibadah dan praktik tradisional Katolik Roma. Dalam suratnya kepada Kardinal Sadolet diketahui bahwa Calvin menjalankan semua tindakan keagamaan, namun tetap tidak merasakan damai, sebaliknya ketakutan yang ekstrem meliputinya tanpa sesuatu yang dapat memulihkannya. Pada tahun 1533, Calvin bersinggungan dengan reformasi dan mengalami “pertobatan yang tiba-tiba”. Ia mengatakan, “God, by a sudden conversion subdued and brought my mind to a teachable frame…. Having thus received some taste and knowledge of true godliness, I was immediately inflamed with intense desire to make progress.

Pada bulan November 1533, Nicholas Cop mengajak gereja Katolik untuk melakukan pembaruan (reformation) pada pidato pelantikannya sebagai rektor University of Paris. Hal ini menimbulkan kegeraman pihak gereja dan Raja Francis I yang menyebut reformasi sebagai “Lutheran-like sect”. Cop kemudian melarikan diri ke Basel, Swiss dan menimbulkan kerusuhan di Perancis. Calvin juga terkena imbasnya karena kedekatan hubungannya dengan Cop sampai-sampai ada anggapan bahwa pidato Cop sebenarnya ditulis oleh Calvin. Hal ini mengakibatkan Calvin juga melarikan diri ke Basel. Walaupun berada di tempat pelariannya, Calvin tetap memantau keadaan orang-orang Protestan di Paris yang dianiaya, bahkan sampai dibakar hidup-hidup. Pada bulan Maret 1536, Calvin menerbitkan edisi pertama dari Institutes of the Christian Religion. Buku ini dimaksudkan sebagai buku tingkat dasar bagi mereka yang ingin mengenal iman Kristen. Institutes direvisi sebanyak 5 kali, terakhir pada tahun 1559 dengan banyak perluasan sehingga buku ini menjadi seperti sebuah karya baru.

 


Ulrich Zwingli (1 Januari 1484 –  11 Oktober 1531)

Pada bulan Januari 1523, Ulrich Zwingli — pendeta kota, menghadap Dewan Kota Zurich. Angin reformasi bertiup ke Alpen dari arah Jerman [yang dipelopori] oleh [Martin] Luther. Zwingli mengemukakan 67 dalil yang diawali dengan: “Setiap orang yang berkata bahwa Injil tidaklah sah tanpa konfirmasi dari gereja, maka ia telah bersalah dan memfitnah Allah.” Walaupun 28 dari 95 dalil Luther telah diterbitkan sekitar 6 tahun sebelumnya, alasan-alasan Zwingli lebih bersifat persuasif [ajakan]. Pihak yang berwenang memberinya izin untuk melanjutkan khotbahnya, yang menekankan Kristus [sebagai prioritas pertama] dan gereja [di tempat kedua]. Salah satu dalil Zwingli berbunyi, “Kristus adalah satu-satunya perantara antara Allah dan diri kita.” Pembaruan di Swiss sekarang berada di jalurnya, dan Zwingli memainkan peran penting pada tahun-tahun awal.

Zwingli dilahirkan dari keluarga petani sukses di Lembah Toggaburg, bagian bawah pegunungan Alpen sebelah timur. Di sini, Zwingli menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada tanah airnya. Di kemudian hari, dia menerjemahkan salah satu baris dalam Mazmur 23, “Di pegunungan Alpen yang indah, Dia membaringkan aku,” dan dia menggunakan Sungai Rhine sebagai sebuah ilustrasi topik utama khotbahnya: “Demi Allah, jangan remehkan firman Allah, karena firman-Nya kekal seperti sungai Rhine yang senantiasa mengalir. Seseorang mungkin bisa membendungnya untuk sementara, tetapi mustahil untuk menghentikannya.”

Zwingli membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengetahui kuasa Firman. Setelah lulus dari Universitas Basel pada tahun 1506, dia menjadi gembala jemaat di Glarus. Sejak awal, dia melakukan tugas penggembalaannya dengan sungguh-sungguh. Dia kemudian menulis, “Walaupun aku masih muda, tugas gerejawi mengobarkan rasa takut alih-alih sukacita dalam diriku. Aku tahu dan yakin, bahwa aku akan menanggung darah domba yang akan binasa sebagai konsekuensi kecerobohanku.”

Rasa tanggung jawab terhadap tugasnya mendorong Zwingli semakin tertarik membaca Alkitab. Zwingli justru menjadi tertarik dengan Kitab Suci ketika pendeta-pendeta lainnya tidak banyak yang mengenal isi Alkitab. Zwingli pertama kali tertarik pada saat dia membeli salinan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Latin oleh Erasmus. Dia mulai belajar bahasa Yunani secara autodidak, membeli salinan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani oleh Erasmus, dan mulai menghafal ayat-ayat yang panjang. Pada tahun 1519, dia mulai mengajarkan pelajaran dari Perjanjian Baru secara rutin.

Secara pribadi Zwingli juga mulai menantang kebiasaan umat Kristen di abad pertengahan, yang dianggapnya tidak alkitabiah. Dia telah bergumul dengan kehidupan selibat kependetaan untuk beberapa lama (bahkan dia mengakui bahwa sebagai pendeta muda, dia tidak akan terlibat skandal). Pada tahun 1522, dia menikah secara diam-diam. Pada tahun yang sama, dia melanggar tradisi puasa Lenten (dengan memakan sosis di depan umum) dan membuat tulisan menentang puasa.

Pada tahun 1523, dia sudah siap untuk menyampaikan gagasannya di depan pendengar yang lebih luas. Pada bulan Januari, dia mengumumkan gagasannya di hadapan Dewan Kota Zurich. Perdebatan kedua terjadi pada bulan Oktober dengan persetujuan lebih lanjut dari dewan. Beragam bentuk reformasi pun bermunculan: patung-patung Yesus, Maria, dan orang-orang kudus dikeluarkan dari gereja-gereja; Alkitab harus menerima prioritas tertinggi.

 

Perdebatan tentang Perjamuan Suci

Semua kejadian berlangsung dengan cepat. Pada tahun 1524, dia menikahi istrinya di depan umum, sambil bersikeras menyatakan bahwa para pastor memunyai hak untuk menikah. Pada tahun 1525, dia dan beberapa orang lainnya meyakinkan penduduk kota untuk meniadakan Misa, dengan penekanan pada mukjizat transubstansiasi [perubahan hakikat dari hosti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus, Red.], dan menggantinya dengan kebaktian sederhana yang menerapkan Perjamuan Suci hanya sebagai suatu lambang peringatan.

Pada akhirnya, Perjamuan Suci justru mencegah adanya penggabungan gerakan pembaruan di Jerman dan Swiss. Pada suatu pertemuan, tahun 1529 di Marburg, Luther dan Zwingli bertemu untuk menyatukan dua gerakan tersebut. Walaupun mereka menyepakati 14 butir doktrin, mereka masih terbentur dengan butir ke-15: Perjamuan Suci. Untuk menentang pemikiran Zwingli, Luther bersikeras menyatakan kehadiran Kristus secara harfiah. Zwingli menggagalkannya. Kemudian Luther berkata bahwa Zwingli berasal dari iblis dan dia hanyalah seekor belatung. Zwingli merasa tersinggung karena Luther memperlakukannya “seperti keledai”. Perselisihan ini membuktikan bahwa perdamaian mustahil terjadi.

Zwingli meninggal dunia 2 tahun kemudian dalam pertempuran untuk mempertahankan Zurich dari serangan kaum Katolik. Rencana-rencana untuk menyebarkan reformasi ke Swiss Jerman berakhir, namun kota Zurich tetap menjadi kota Protestan. Di bawah kepemimpinan Heinrich Bullinger, penerus Zwingli, cabang unik reformasi ini terus berkembang.

 


John Knox (1553-1572)

John Knox adalah salah seorang tokoh yang memengaruhi gerakan reformasi di Skotlandia. Ia merupakan salah satu murid Calvin di  Jenewa, sehingga pengaruh teologi Calvinis sangat kental dalam dirinya. Menurut Knox, kekristenan dan kemerdekaan nasional harus dapat ditemukan bersama, karena keduanya merupakan suatu pergumulan yang dapat diselesaikan bersama.

John Knox lahir sekitar tahun 1513 di Haddington, tidak jauh dari Edinburgh. Ia belajar di Uniersitas St. Andrews lalu ditahbiskan menjadi imam Katolik tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan tahun 1540. Perpindahannya menjadi seorang protestan, menjadi sebuah misteri yang terselubung.

Setelah terlibat dalam Reformasi Skotlandia sebagai pengkhotbah dan pengajar, kematian Edward VI tahun 1553 dan penobatan Mary I (seorang Katolik yang saleh), mendorong Knox meninggalkan Britania menuju ke Eropa. Ia pernah tinggal di Inggris pada bagian akhir pemerintahan Edward VI dan ikut dalam tahap-tahap terakhir penyelesaian “Book of Common Prayer dari Cranmer” pada 1552, serta pernah menjadi gembala jemaat Inggris dalam pelarian di Frankurt (tempat ia terlibat pertikaian). Kemudian Knox memulai perjalanannya ke Prancis menjadi budak kapal selama sembilan belas bulan, baru kemudian ke Genewa. Di sana ia belajar di bawah bimbingan Calvin.

Pada tahun 1559, Knox kembali ke Skotlandia dan membantu memperbaharui gereja di sana. Ia merupakan salah satu dari enam tokoh reformasi terpenting di Skotlandia.

Knox meninggal tahun 1572. Selama hidupnya Knox berhasil menyusun beberapa karya, dengan bantuan orang lain maupun hasil pemikirannya sendiri, di antaranya: “Book of Discipline” (Buku Disiplin, 1561), “Book of Common Order” (Buku Aturan Umum, 1564), “Scots Confession” (Pengakuan Iman Skotlandia yang diterima Parlemen Skotlandia dan menjadi Pengakuan Iman Gereja Reformasi Skotlandia sampai tahun 1647, hingga “Pengakuan Iman Westminster” menggantikannya), serta menulis “History of the Reformation Religion within the Realm of Scotland” (Sejarah Reformasi Agama dalam Kerajaan Skotlandia, yang baru terbit secara lengkap tahun 1644).

 


Robert Charles Sproul (13 Februari 1939 – 14 Desember 2017)

Robert Charles Sproul (lahir 13 Februari 1939; umur 80 tahun) adalah seorang teolog Calvinis, pengarang, dan pendeta dari Amerika. Dia adalah pendiri dan ketua dari Ligonier Ministries dan dapat didengar sehari-hari di Renewing Your Mind, sebuahsiaran radio di Amerika Serikat dan internasional.

Sproul memegang gelar dari Westminster College, Pennsylvania (BA, 1961), Seminari Teologi Pittsburgh-Xenia (M. Div, 1964), Free University of Amsterdam (Drs., 1969), dan Whitefield Theological Seminary (PhD, 2001). Dia telah mengajar di berbagai perguruan tinggi dan seminari, termasuk Seminari Teologi Reformed di Orlando dan Jackson, Mississippi, dan Seminari Teologi Knox di Ft. Lauderdale.

Salah satu mentor Sproul adalah John Gerstner, profesornya di Pittsburgh-Xenia Theological Seminary. Mereka berdua, bersama dengan mahasiswa Gerstner yang lain, Arthur Lindsley, menjadi penulis-bersama buku Classical Apologetics pada tahun 1984. Pelayanan Dr. Sproul, Ligonier Ministries, membuat rekaman dari pengajaran berbagai mata kuliah teologi dan Alkitab dari Dr. Gerstner.

Dr. Sproul menjabat sebagai pastor-bersama di Saint Andrew Kapel, jemaat di Sanford, Florida. Ia ditahbiskan sebagai penatua di Persatuan Gereja Presbiterian di Amerika Serikat pada tahun 1965, tetapi meninggalkan denominasi tersebut sekitar tahun 1975 dan bergabung dengan Gereja Presbiterian di Amerika. Ia juga merupakan seorang anggota Dewan dari Alliance of Confessing Evangelicals.

Sproul merupakan pendukung Calvisme di banyak media cetak, audio, dan video, publikasi, dan ia juga dikenal sebagai pendukung dari pendekatan apologetika Kristen ala Thomas Aquinas (klasik), yang kurang umum di kalangan apologis Reformed, dan penolakannya terhadap presuposisionalisme dalam mendukung apologetika Thomas Aquinas, yang sering disebut “Apologetika Klasik”. Tema yang dominan di banyak pengajaran Sproul dalam Memperbaharui Pikiran Anda adalah tentang kekudusan dan kedaulatan Allah.

Karya Sproul yang berjudul The Holiness of God (Kekudusan Allah) dianggap sebagai karya dasarnya tentang subjek karakter Allah, dan bukunya Not a Chance: The Myth of Chance in Modern Science and Cosmology  sangat dipuji oleh orang-orang yang menolak materrialsme yang dianjurkan oleh beberapa orang dalam komunitas ilmiah.

Melalui Ligonier Ministries dan program radio dan konferensi Memperbaharui Pikiran Anda, Sproul telah menghasilkan berbagai audio dan video ceramah pada mata pelajaran sejarah filsafat, teologi, studi Alkitab, apologetika, perancangan cerdas, dan kehidupan Kristen. Selain itu, Sproul telah menulis lebih dari 60 buku dan banyak artikel untuk publikasi Injii. Ia menandatangani Pernyataan Chicago tentang Ineransi Alkitab, 1978, yang menegaskan pandangan tradisional ineransi Alkitab, dan dia menulis sebuah komentar pada dokumen yang berjudul Explaining Inerrancy (Menjelaskan Ketakbersalahan). Ia juga menjabat sebagai editor dari the Reformation Study Bible, yang telah muncul dalam beberapa edisi, dan juga dikenal sebagai New Geneva Study Bible.

Pada tahun 2006 Ligonier Ministries meluncurkan Reformation Trust Publishing dengan tujuan untuk mempromosikan iman Kristen Protestan Reformed historis oleh para pendeta, pendidik, dan pemimpin-pemimpin gereja Reformed injili modern yang terkenal.

Bagikan Artikel :

Copyright © 2019 SEKOLAH TINGGI TEOLOGI EXCELSIUS - All rights reserved. Powered by Adeusweb