STT EXCELSIUS

Gloria In Excelsis Deo

 

“Blended”: Active atau Cooperative Learning? Oleh Harianto GP

  • STT Excelsius

Sejak Januari 2020 lalu Virus Corona Wuhan, China,  muncul dan menyebar ke seluruh dunia, maka sejak itu terjadi perubahan dalam segala kehidupan manusia, yang semua aktifitas berpusat pada “di rumah aja”, termasuk “belajar di rumah”. Suasana “belajar di rumah” juga dialami di Indonesia selama 4 bulan terakhir ini. Suasana belajar yang berubah ini memggambarkan keadaan zaman Education 4.0, yang menekankan keperluan dasar manusia adalah menggunakan dan menguasai IT (Information and Technology).

Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 oleh Mendikbud dan diberlakukan kegiatan belajar mengajar baik di sekolah-sekolah maupun kampus-kampus dilaksanakan secara daring sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran pandemi Covid-19. Bahkan tidak tanggung-tanguh pihak Pemerintah lewat Menpan RB mengumumkan akan mengurangi pegawai negeri sipil yang tidak produktif. Dengan demikian, respon Education 4.0 adalah respon pemanfaatan teknologi pembelajaran yang bersifat “blended” dengan menggunakan daring (e-learning) dan luring (luar jaringan). Pembelajaran daring menawarkan teknologi digital, open sources contents dan global classroom sehingga peserta didik dapat belajar di rumah. Pembelajaran luring, pendidik memeberi materi melalui web, mengirim lewat surat elektronik (e-mail) ataupun mengunggahnya melalui media sosial untuk kemudian dapat diunduh oleh peserta didik.

Persoalan-persoalan Hasil Belajar

Tetapi, proses pembelajaran di rumah menimbulkan masalah dan para peneliti banyak mengevaluasi tentang pembelajaran tersebut dengan hasil adalah: Pertama, dosen menumpuk tugas-tugas kepada peserta didik. Tugas-tugas tersebut menjadi pengisi waktu sehari-hari di mana peserta didik tidak ada kegiatan di rumah. Kedua, materi tidak tersampaikan dengan baik, metode belajar yang kaku, tidak terjadi hubungan dan sentuhan emosional dengan peserta didik pada pembelajaran jarak jauh, dan pengenalan atau evaluasi kemampuan peserta didik hanya berdasarkan absensi waktu di kelas dengan zoom, google meet atau sejenisnya dan ketepatan serta kualitas menyelesiakan tugas. Ketiga, sementara itu orang tua mengeluhkan tugas peserta didik belum biasa diselesaikan sendiri oleh yang bersangkutan tetapi melibatkan kerjasama dengan orangtua atau saudara yang ada di rumah. Keempat, tidak semua peserta didik mesti berstatus mahasiswa yang mempunyai laptop atau komputer bahkan menyediakan pulsa internet atau signyal yang selalu terputus-putus sehingga kendala tersendiri bagi mereka.

Active Learning

Sebenarnya pembelajaran berbasis e-learning sudah berkembangan sejak 40 tahunan ke belakang. Berbagai kajian berupa skripsi, tesis, disertasi bahkan menelitian lepas bertopik e-learning sudah sangat banyak dipublish. Waller and Wilson pada tahun 1970 mengembangkan “Pembelajaran e-learning” (istilah on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning). Pembelajaran berbasis Komputer dan Jaringan adalah suatu bentuk model pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi web dan internet. Pada tahun 90-an, berkembang sebagai e-learning (distance learning). Sejak 1998, pembelajaran tersebut mulai dirintis di Indonesia oleh UGM yang disebut sebagai “Student Internet Center”, yang memungkinkan mahasiswa bisa secara aktif mendalami dan pemahamannya terhadap materi perkuliahan (Student Active Learner – bukan Teacher Active Learner).

E-learning menjadi gambaran bagi zaman Education 4.0 ini bahkan menjadi model pembelajaran “flexible” (“flexible education system”) ini sebenarnya mengguntungkan peserta didik karena mereka dibawah masuk dalam proses “active learning”, yang karakteristiknya adalah pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik sebagai penanggung jawab belajar. Skinner mendefinisikan belajar sebagai perilaku seseorang. Saat seseorang belajar, berarti ia akan merubah perilakunya menjadi semakin baik, karena kognitif, afektif dan psikomotorisnya berubah. “Active learning” sangat efektif untuk perubahan perilaku menjadi baik.

Pembelajaran aktif dalam konteks kolaboratif awalnya dipopulerkan  Bonwell dan Eison (1991) dalam laporannya di hadapan “The Association for the Study of Higher Education (ASHE)”.  Di Indonesia muncul tahun 1980 sebagai pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). CBSA digunakan sebagai landasan Kurikulum 1984, KBK maupun KTSP “active learning”. Penelitian Wyatt S. Looper (1995) menemukan,  pembelajaran yang efektif  adalah pembelajaran aktif bersifat konstruktivisme. Teori Looper diberi nama “Succeful Comes from doing” sebagai berikut.

“Kerucut Pengalaman” ini bercerita pembelajaran yang efektif adalah 90% berada pada lampisan bawah (mengerjakan hal yang nyata, melakukan simulasi, dan bermain peran), 70% berada menyajikan (presentasi) dan terlibat dalam diskusi). Kerucut Pengalaman ingin mengatakan bila peserta didik belajar secara mandiri (di rumah) maka proses belejarnya cukup maksimal. Selanjutnya penelitian Bobbie dePorter dan Mike Hernacki tentang “Quantum Learning”  menghasilkan bahwa belajar dapat terjadi dengan cara: 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Hasil penelitian Looper dan Hernacki mempunyai kesimpulan yang sama adalah   pembelajaran yang efektif bila peserta didik aktif belajar secara mandiri sehingga apa yang dilakukannya berasal dari apa dikatakannya. Tetapi, bagi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, memberi semboyan bagi para pendidik adalah: “Ing ngarso sung tulodo” (di depan memberi contoh), “Ing madyo mangun karso”, (di tengah memberi semangat), “Tut Wuri Handayani”, (di belakang memberi dorongan). Jadi dapat direlasikan dari penelitian sebelumnya, bahwa bila menginginkan perserta didik aktif belajar berarti pendidik juga lebih aktif menemukan model-model pembelajaran blended yang semakin efektif antara daring dan luring karena pendidik adalah teladan yang menjadi contoh bagi peserta didik. Tetapi bila pendidik tidak berusaha menemukan pembelajaran blended yang efektif dan hanya menggunakan pembelajaran yang disarankan oleh Pemerintah, maka pendidik tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran yang sudah didisain dalam Rencana Pembelajaran Semester sesuai dengan visi misi institusi pendidikan di mana ia melayaninya. Jadi pendidik mesti kreatif bahkan mulai lebih detail lagi selalu mengevaluasi hasil belajar peserta didiknya. Pendidik jangan segan-segan mengadakan perubahan model pembelejaran yang sedang dipakainya bila dirasakan kurang efektif. “Kebijakan Mereka Belajar – Kampus Merdeka” (Permendikbud No 3 Tahun 2020) menegaskan bahwa pendidikan dan peserta didik mempunyai “kreativitas dan inovasi” yang tinggi untuk memastikan keberhasilan disain pembelejaran yang dibuat para pendidik. Dengan demikian, memang dibutuhkan model pembelajaran flexibel yang berorentasi dengan menjadikan peserta didik terampil, lentur dan ulet (agile learner). Untuk mencapai tujuan itu, belajar bisa di mana saja, semesta belajar tak berbatas, tidak hanya di ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium, tetapi juga di desa, industri, tempat-tempat kerja, tempat-tempat pengabdian, pusat riset, maupun di masyarakat.

Active-Cooperative Learning

Pada akhirnya belajar di rumah membosankan apalagi peserta didik tidak menguasai dengan baik masalah IT sehingga ia akan monoton melakukan hal-hal rutinitas yang dipahami sebagai pendangkalan kreatifitas. Jadi, perlu diadakan pencengahan terhadap tingkat kebosanan  dengan berbagai cara berikut: Pertama, perlunya diberi pelatihan (keterampilan) penguasaan IT baik terhadap penggunaan laptop atau komputer dan program-program yang diperlukan, pencarian sumber belajar baik berupa e-book, artikel jurnal, dan makalah yang belum dipublish, dan sejenisnya sehingga peserta didik tidak selalu mengeluh “akan kekurangan bahan” ketika menyelesaikan tugas-tugasnya seperti menyelesaikan tugas akhir (skripsi, tesis, atau disertasi). Kedua, tugas-tugas pembelajaran mesti disesuaikan dengan minat para peserta didik sehingga mereka merasa bersemangat menyelesaikannya. Ketiga, model pembelajaran selalu berorientasikan secara”blended”, bukan monoton dengan zoom atau google meet yang kemudian dilanjutkan dengan membuat tugas. Dengan demikian perlunya pembuka wawasan pendidik tentang model-model pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai konteks.  Keempat, karena selalu kesulitan bila belajar mandiri maka perlu pengembangan model pembelajaran yang bersifat cooperative (kelompok) agar setiap kesulitan belajar dapat dilakukan dalam kelompok. Tentu saja karena “belajar di rumah”, kelompok pun didisain dengan menggunakan  google met dan sejenisnya.

Dengan mengembangkan poin-poin tersebut, maka pendidik menggunakan active-cooperative learning untuk melawan kebosanaan peserta didik dalam belajar. Active-cooperative learning adalah pembelajaran “blended” dari active learning dengan cooperative learning, yang menekan pada belajar berpusat kepada peserta didik secara kelompok. ***

 

 

Bagikan Artikel :

Copyright © 2019-2020 SEKOLAH TINGGI TEOLOGI EXCELSIUS - All rights reserved. Powered by Adeusweb